FORUM
PRIA4D - Kontroversi karena ketidakselarasan antara fakta dan putusan akhir kembali terjadi di bulu tangkis. Kali ini, tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, yang dirugikan di Kejuaraan Dunia 2025.
Jonatan Christie kaget ketika challenge yang diambilnya tidak mengeluarkan hasil saat dirinya tampil pada laga perempat final Kejuaraan Dunia 2025.
Dalam laga di Adidas Arena, Paris, Prancis, Jumat (29/8/2025), netting tipis yang dilepaskan Jonatan dinyatakan keluar oleh hakim garis.
Keputusan tersebut membuat Jonatan tertinggal 5-13 dari lawannya yaitu Kunlavut Vitidsarn (Thailand) dan pada gim ketiga.
Jonatan sendiri sedang berusaha mati-matian untuk bangkit setelah telat panas pada gim penentuan hingga Vitidsarn dapat membuka jarak 7-0.
Namun, layar besar menunjukkan tayangan yang bikin garuk-garuk kepala dan juga geregetan bagi Jojo serta pendukungnya.
Jiang Shi Ying selaku umpire atau wasit pertandingan pun memanggil Pencho Stoynov selaku referee alias wasit turnamen untuk konsultasi.
"Dikarenakan sistemnya (instant review) tidak menunjukkan hasil, keputusan semula tetap," terang Jiang kepada Jonatan kemudian.
Jonatan pun kaget. "Hah? Kenapa?" timpalnya. Stoynov lantas mencoba menenangkan Jonatan dengan berusaha menelpon petugas teknis untuk memeriksa ulang.
Hanya saja, tidak ada perubahan dalam putusan.
Tampaknya sistem instant review sedang mengalami malfungsi. Poin tetap diberikan ke Vitidsarn meski tayangan ulang dalam siaran langsung menunjukkan sebaliknya.
Statuta BWF tentang Petunjuk untuk Petugas Teknis sayangnya memang mengatur demikian.
Apabila hasil yang keluar "Tidak Ada Putusan", poin diberikan sesuai dengan putusan pengadil lapangan sebelumnya, termasuk hakim garis dan hakim servis.
Opsi untuk let alias mengulang reli hanya jika hakim garis atau umpire tidak ada bisa memberi putusan karena penglihatannya terhalang.
Sebenarnya jika hasil challenge tidak konsisten atau keliru, umpire bisa memanggil referee sebelum reli berikutnya.
Dari sana referee akan memberi arahan tentang apa yang harus dilakukan untuk melanjutkan pertandingannya.
Apapun itu, kerugiannya tidak cuma kali ini saja bagi Indonesia.
Di Sudirman Cup 2025—turnamen mayor untuk beregu, petaka dialami ganda campuran, Rinov Rivaldy/Gloria Emanuelle Widjaja, saat Indonesia melawan Denmark.
Umpire menyatakan Rinov terlebih dulu menyenggol kok yang keluar dengan raketnya padahal sebenarnya tidak.
Lebih sial lagi karena poinnya ditarik saat game point untuk lawan. Alhasil, Rinov/Gloria kalah pada gim pertama sebelum akhirnya takluk via rubber.
Kejadian di Prancis sebelumnya? Pernah juga ketika perempat final French Open 2023 dengan ganda putra, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, menjadi korban.
Perdebatan tentang diperlukannya pembaruan terhadap teknologi challenge di bulu tangkis pun mengemuka.
"Menurut saya, kita memerlukan semacam VAR di bulu tangkis," ucap salah satu komentator dalam siaran resmi BWF setelah kejadian yang menimpa Jonatan.
'Eagle eye' di bulu tangkis sejak beberapa tahun terakhir dianggap sudah ketinggalan zaman karena hanya meninjau bola masuk atau keluar.
Padahal pelanggaran banyak macamnya dan benar-benar menuntut kejelian seperti antisipasi di net, sentuhan ganda, hingga sesederhana ketinggian servis.
Jonatan sendiri diuntungkan di babak 16 besar saat sambarannya di net tidak dinyatakan fault meski dalam tayangan ulang terlihat kok belum menyeberang ke daerahnya.
Hasilnya, dia memperbesar keunggulan atas Lee Cheuk Yiu (Hong Kong) menjadi 8-3 pada gim kedua. Jojo akhirnya menang 21-19, 21-9 setelah mendapat 8 poin beruntun di akhir.
Soal Lee Cheuk Yiu? Dia malah pernah meraih gelar juara dengan kontroversi saat championship point atas Anthony Sinisuka Ginting (Indonesia) pada final Hong Kong Open 2019.
Dengan kejadian yang berulang, jadi kapan BWF mengurus teknologi yang sudah usang, alih-alih mengurus sistem poin dan format pertandingan beregu hingga malah membingungkan?
Pencarian Terkait :
0 Komentar